Kenangan dengan Prof Mahmudah, Perempuan Cerdas Berwawasan Luas


Pertama kali bertemu dengan Prof Mahmudah, saat rapat di PWNU Lampung, pada tahun 2020. Waktu itu, kalau tidak salah, rapat persiapan muktamar ke-34 NU di Lampung. Pemimpin rapat itu adalah Prof Alamsyah, salah seorang Wakil Ketua PWNU Lampung, suami Prof Mahmudah.

Kalau Prof Alamsyah, saya sudah cukup kenal dan sering bertemu, baik dalam rapat-rapat maupun acara-acara PWNU. Saat itu saya adalah Ketua Lembaga Ta’lif wan Nasyr (LTN)—Lembaga Informasi, Komunikasi dan Publikasi– PWNU Lampung, sehingga memang harus sering ikut ataupun hadir di berbagai kegiatan PWNU.

Kebetulan saya duduk di samping Prof Mahmudah (waktu itu keduanya belum Profesor). Saya lihat di tangan beliau ada berkas-berkas, yang mungkin berkaitan dengan kepanitiaan acara muktamar. Saya baru menyadari itu adalah Prof Mahmudah, ketika beliau menyampaikan pemaparan di rapat tersebut. Saya takjub sekaligus tersenyum.

Meski baru bertemu langsung, tapi saya sudah sering mendengar namanya. Saya takjub pada beliau yang memberikan pemaparan sangat cermat. Saya tersenyum, karena ia seolah melaporkan pada suaminya, pemimpin rapat saat itu. Saya lantas menyapa beliau, dan sedikit memperkenalkan diri.

Mengapa sedikit? Ya karena momen rapat yang serius itu, bukan saat yang tepat untuk mengobrol panjang. Mungkin saja Prof Mahmudah tidak begitu mendengar apa yang saya katakan, karena kami memang sedang menyimak rapat, dan posisi kami tak jauh dari pemimpin rapat, dalam pertemuan yang melingkari meja panjang itu.

Pertemuan berikutnya, dalam prosesi pelantikan Pengurus Wilayah (PW) Muslimat NU Provinsi Lampung, pada November 2023. Prof Mahmudah adalah ketua panitianya. Sebelum acara pelantikan memang sempat ada rapat-rapat persiapan. Tapi saya tidak bisa selalu hadir karena sedang ada kesibukan. Ketika saya hadir, kebetulan Prof Mahmudah sedang ada kesibukan di tempat lain.

Saat itu saya sempat berpikir, hebat amat ini acara Muslimat NU, ketua panitianya saja seorang guru besar. Dan tentu saja Ketua PW Muslimatnya hebat, bisa mengajak sang profesor bergabung, bahkan (mau) menjadi ketua panitia acara pelantikan yang dihadiri sejumlah pejabat penting di Provinsi Lampung serta ribuan kader Muslimat dari berbagai kabupaten/kota.

Namun saat menyampaikan sambutan, saya lihat Prof Mahmudah terbatuk-batuk, dan sempat kehilangan suaranya. Seseorang lalu berlari-lari memberinya minum. Sesaat kemudian, Prof Mahmudah melanjutkan sambutannya, dengan suara parau, timbul tenggelam.

Dari komentar para pengurus Muslimat yang hadir, Prof Mahmudah memang sedang sangat kelelahan. Banyak agenda dan jadwal yang harus dilaksanakan, baik untuk acara Muslimat tersebut, maupun acara lainnya di kampus tempatnya mengajar, UIN Raden Intan Lampung.

Usai memberi sambutan itu Prof Mahmudah melangkah agak sempoyongan, yang langsung mendapat pertolongan dari para panitia.

“Masya Allah Prof. Dalam keadaan lelah, masih saja banyak bergiatan dan berkiprah. Benar-benar luar biasa,” kata saya.

Berikutnya, pada Agustus 2024. Saya menjadi salah satu pemateri dalam Seminar Literasi Digital yang digelar PW Muslimat NU Lampung di Hotel Emersia, Bandar Lampung. Dua pemateri lainnya (laki-laki) adalah teman saya sesama jurnalis, dan seorang dosen muda dari FISIP Universitas Lampung.

Saat diminta menjadi pemateri itu, saya sempat was-was dan merasa tidak percaya diri. Bagaimana tidak, pesertanya adalah para pengurus PW Muslimat NU Lampung dan Pengurus Cabang (PC) Muslimat dari 15 kabupaten/kota, yang notabene adalah para ibu Nyai, pengasuh pondok pesantren, dan para akademisi dari berbagai kampus.

Ketika dibuat listingan di group Muslimat, siapa saja yang akan hadir dalam seminar itu, terus terang saya sempat bergidik, ketika melihat Prof Mahmudah menuliskan namanya. “Ya Allah, pesertanya hebat-hebat ini, ada profesor Mahmudah. Sementara pematerinya adalah saya, yang entah siapa ini.”

Ketika menyampaikan materi, saya lihat Prof Mahmudah duduk di kursi melingkar yang paling depan, bersama Ketua PW Muslimat. Saya cepat-cepat membuang rasa grogi yang sempat melintas, dengan meyakinkan diri, bahwa masalah literasi dan juga literasi digital ini, saya memang sedikit-sedikit paham.

“Kan ini memang bidangnya Mbak Ila,” kata ketua panitia acara, ketika saya sampaikan bahwa saya agak grogi harus menyampaikan materi di depan para bu nyai dan ibu-ibu hebat lainnya.

Kulihat Prof Mahmudah tampak serius memperhatikan, saat saya menyampaikan materi, yang kerap kuselingi dengan kalimat-kalimat ringan yang sesekali mengundang tawa. Saya memang tak ingin terlihat terlalu serius di depan audience ibu-ibu.

Usai acara, tanpa saya duga, Prof Mahmudah menghampiri saya yang masih berdiri di depan.

“Nomor wa-nya ada di group ya?”

“Oh, ya, ada Prof. Saya ada di group wa Muslimat,” jawab saya.

“Saya juga sudah menyimpan nomor wa Prof Mahmudah,” saya menambahkan.

Saya memang pernah mengirim pesan kepada beliau pada hari pelantikan Muslimat, bahwa para jurnalis ingin mewawancarai ketua panitia. Mereka datang pada acara pelantikan, karena sehari sebelumnya aku membuat rilis untuk para jurnalis.

Namun pesan saya itu tidak dibalas oleh Prof Mahmudah. Saya maklum, karena beliau memang sangat sibuk, apalagi di hari H tersebut. Usai menanyakan perihal nomor wa tersebut, Prof Mahmudah langsung pergi meninggalkanku.

Disamperin seperti itu saja, saya merasa begitu bahagia dan bangga. Untuk apalah beliau menanyakan nomor wa saya ya.

Pertemuan selanjutnya, Prof Mahmudah menjadi pemateri acara Sosialisasi Penguatan Moderasi Beragama PW Muslimat NU Lampung, 18 Januari 2025.

Saya sempat membuat video acara tersebut, termasuk saat Prof Mahmudah menyampaikan materi. Sayangnya, video yang saya buat terlalu singkat, karena waktu itu memang niatnya membuat reels (video pendek) untuk facebooks NU Online Lampung.

Dari pemaparannya, saya menyaksikan, Prof Mahmudah bukan saja cerdas, tapi seorang perempuan yang berwawasan sangat luas. Ia sangat menguasai materi yang disampaikan. Saya membayangkan satu saat bisa mengobrol panjang dengan beliau, mungkin salah satunya adalah untuk membahas penerbitan buku Muslimat NU Lampung.

Awal Oktober 2025. Saya baru saja pulang dari rumah sakit, menemani ibu yang sempat beberapa hari dirawat, sehabis operasi. Malam harinya, saya melihat status teman, yang juga pengurus Muslimat, menyatakan Prof Mahmudah sedang dirawat di rumah sakit.

Yang membuat saya juga terkejut adalah, ternyata kamar ruang perawatan Prof Mahmudah berselebelahan dengan kamar tempat ibu saya sempat dirawat, di rumah sakit yang sama.

“Setiap menuju kamar perawatan ibu, saya selalu menoleh ke kamar di sampingnya. Sepertinya selalu banyak yang bezuk. Tidak tahunya itu Prof Mahmudah ya,” kata saya pada si teman.

Beberapa hari kemudian, belum lagi sempat menjenguk, mendapat kabar kalau Prof Mahmudah akan dirujuk ke rumah sakit lain. Beberapa menit berikutnya, mendapat kabar kalau beliau sudah berpulang. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun.

Selamat kembali ke keabadian, Prof. Meski hanya selintas-selintas aku bertemu denganmu, sungguh saya kagum pada dirimu. Seorang perempuan tangguh, ulet, cerdas, dan berwawasan luas. Al Fatihah..

Ila Fadilasari

.

Berita Terkait

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Top